Sabtu, 13 Desember 2008

Balada LPG dan Pupuk

Sudah 3 hari ini gas ukuran kecil maupun besar sulit dibeli di mana-mana. Sebelum ada konversi minyak tanah (nama kerennya kerosine) ke gas LPG, pemerintah menjamin adanya kelangsungan pasokan gas yang berkesinambungan dan pasti ada dimana-mana. Seperti layaknya iklan di TV, apapun alasannya gas lebih unggul dari yang lainnya, apalagi minyak tanah.

Pemerintah lupa, ada bahan bakar yg lebih efektif dan baik selain LPG yaitu bahan bakar batubara yg dikemas secara briket. Hanya saja masih memiliki banyak kekurangan disini dan sana karena tidak seriusnya pemerintah mengembangkan teknologi yang baik, terutama untuk pemakaian jangka pendek misalnya 1 s/d 2 jam bahkan 5 s/ 10 menit.

Rakyat tak henti-hentinya menderita akibat kebijakan pemerintah yang terlalu tergesa-gesa. Entah tim ke-Presidenan yang tidak becus apa karena Presiden takut tidak populer lagi karena tidak adanya gebrakan untuk mendapat simpati rakyat. Pemerintah (khususnya Presiden) seakan tidak dapat berbuat banyak akibat dari para pembantunya untuk meluncurkan berbagai kebijakan, seakan berjalan sendiri-sendiri. Jika sedang banyak masalah, Presiden langsung dituding atas akibat kemorat-maritan nasib rakyat yang dipermainkan. Belum tuntas masalah PUPUK di tambah lagi dengan adanya kasus kelangkaan pasokan gas LPG, setelah ini apa lagi???

LPG memang memudahkan pemakaian para penggunanya, menurut iklan layanan yang di bawakan oleh "Dick Doank", akan tetapi sosialisasi ke masyrakan tidak cukup hanya melalui iklan tapi di dukung oleh kualitas barang yang diberikan cuma-cuma ke masyarakat yaitu "1 set kompor gas". Apakah karena budget yang minim atau permainan para pelaksana tender yang nakal, sehingga kualitas barang tersebut menjadi rendah.

Sebagai rakyat biasa, saya cuma bisa beharap kepada para calon legislatif, eksekutif dan presiden mendatang hendaknya bawa kepemimpinan anda semua dengan hati dan nurani yang bersih tanpa ada niat untuk mencari keuntungan atas jabatan yang akan kalian pegang nanti. Bosan rasanya hidup di Indonesia yang tercinta ini penuh dengan manusia-manusia busuk yang mengisi bagian dari kepemerintahan bangsa ini. Rakyat sudah banyak menderita, sengsara dan tidak punya lagi harapan untuk hidup yang layak akibat dari salah orang yang duduk di manajerial Indonesia Raya. Mereka jadikan dirinya bukan abdi masyarakat akan tetapi menjadi raja-raja kecil di pemerintahan, tak sadarkah gaji mereka dari rakyat?
Jika rakya tidak sanggup untuk menghidupi dirinya sendiri, bagaimana mungkin rakyat dapat membayar pajak dengan baik?

Kembali ke masalah pupuk dan LPG,
Pupuk dan LPG merupakan elemen penting dari masyarakat, pupuk untuk petani untuk kegiatan pertanian dan LPG untuk masyarakat umum untuk kegiatan memasak guna memenuhi keluarga. Sistim dan birokarasi yang berbelit-belit dan disusupi oleh kepentingan segelintir manusia bejat menjadikan kebutuhan rakyat yang vital jadi tidak karuan. Mengapa pemerintah tidak dapat bertindak cepat jika masalah-masalah itu terjadi kepada masyarakat?
Sinyalemen yang berkembang, akibat kelangkaan gas ini diakibatkan oleh kontrak penjualan LNG kita ke negara china, kendati harga penjualan gas tersebut lebih murah dari harga penjualan gas di negara sendiri. Mengacu politik dumping negara tetangga kita Jepang kuranglah tepat bila di berlakukan di negara kita, kenapa? Mereka (Jepang) menjual barang bukanlah hasil bumi atau komoditi migas, melainkan hasil industri teknologi berupa kendaraan bermotor ataupun elekronik yang mana persaingan industri demikian sangat ketat. Negara kita keliru karena komoditi yang dijual adalah komoditi migas yang tidak semua negara memilikinya, bahkan mempertahankan guna kebutuhan kepentingan internal negaranya sendiri.
Kontrak kerja yang tidak transparan dan terjebak oleh trik negara lain dengan dalih melanggar etika bisnis dan ekonomi dunia karena diakibatkan mudahnya disuap.

Pemerintah tidak mau belajar yang positif dari negara lain kalau itu untuk kepentingan rakyat, akan tetapi jika untuk menguntungkan mereka, mereka akan perjuangkan kendati alasannya untuk rakyat. Seperti kabar baru-baru ini, ada tim legislatif di Sulawesi Utara yang marah dan melakukan pemukulan yang diakibatkan kritikan kaum pemantau dari masyarakat karena kepentingan mereka di pertanyakan dan di permasalahkan tidak berpihak pada rakyat. Itu adalah contoh kecil dari intrik-intrik para gerombolan legislatif yang rakus dan merasa berjasa atas negara tercinta ini.

Tidak ada komentar: